.::..L`eau de CieL..::.

My WoRLD… My LiFe… aND My BLoGs…

Dua Pengemis Wanita

Aku suka sekali menghabiskan waktu di coffee shop pinggir jalan daripada cafe-cafe di mall, sehingga aku bisa menikmati hilir mudik orang-orang di jalan sambil menikmati suasana sore menjelang malam. Itu kegiatan yang biasa aku lakukan sepulang dari kantor. Alih-alih kurang kerjaan jadinya aku menjelajahi dunia maya sambil sesekali menengok ke jalan untuk refreshing mata yang terus-terusan memandang layar laptop. Cafe ini sudah memikat hatiku bertahun-tahun yang lalu sejak dia mempunyai area hot spot di lantai bawah yang bebas untuk merokok.

Ada pemandangan yang sering aku kenali semenjak aku sering nongkrong disini. Entah dengan teman ataupun ketika aku sendiri, lebih seringnya sih aku sendiri daripada ditemani oleh teman-temanku. Pemandangan yang menarik minatku adalah kedua orang pengemis wanita tua yang sering melewati jalan tersebut. Mereka memang tidak pernah mampir ke cafe ini, mereka hanya lewat. Tapi entah kenapa kedua pengemis itu selalu membuat diriku selalu berhenti sejenak dari segala aktivitasku untuk memandang mereka, sampai sosoknya menghilang dari pandanganku. Salah satu dari wanita itu memegang penyanggah dari besi, berbentuk memanjang datar ke depan seperti paduan kursi dan meja. Sehingga wanita tersebut bisa memegang dengan kedua tanggannya. Jangan suruh aku untuk menyebutkan namanya, karena aku sendiri ga tahu harus menyebut dengan istilah apaan. Wanita dengan penyanggah besi itu memang tidak bisa berjalan tanpa alat tersebut. Bisa-bisa dia roboh dan terjatuh, karena terlihat kedua kakinya lemah. Tampak tak kuat untuk berdiri dengan kedua kakinya. Sedangkan wanita satunya memang sama-sama tua, tapi dia tak memerlukan alat bantu untuk membuatnya bisa berjalan.

Kedua wanita tersebut sering terlihat berjalan beriringan, saling membantu dan menopang. Ketika wanita yang satu sudah berjalan terlebih dahulu, maka beberapa meter di depan dia akan duduk dan menunggu wanita dengan penyanggah itu sampai di tempatnya duduk. Ketika ditanya apakah kedua wanita tersebut memiliki hubungan khusus? Entahlah, aku tak tahu. Yang aku lihat adalah kedua wanita yang saling menopang antara yang satu dengan yang lainnya. Menjelajahi malam dan kejamnya kehidupan. Iba? Kasihan? Miris? Kagum? Itulah perasaan yang aku rasakan ketika memandang mereka. Tak bisa aku bayangkan jika salah satu dari wanita tersebut tak ada, maka wanita satunya tentu akan merasa kesepian. Sudah tak ada lagi yang menemaninya berjalan, menjadi teman cerita, dan akan melalui kehidupan yang berat ini sendiri. Ah.. aku berusaha menepis pikiran burukku itu. Aku tak ingin salah satu dari wanita tersebut menghilang. Sebut saja ini adalah egoisku..

Kenyataan memang tak seindah harapan, saat itu aku baru saja mengantar seorang teman, dan dalam perjalanan pulang aku melihat sosok wanita pengemis itu sendiri. Berjalan dengan alat bantu jalannya dia berusaha berjalan pelan-pelan menyusuri jalan. Aku serasa tak percaya dengan pandanganku itu. Aku memilih untuk berhenti tidak jauh dari wanita itu dan mencari-cari sosok wanita satunya yang selama ini bersamanya. Tapi dia tidak ada, benar-benar tidak ada. Sampai kemudian wanita tersebut melewati tempat aku berhenti. Dan aku hanya bisa tercekat saja memandang wajah wanita pengemis itu. Itu pertama kalinya aku memandang dirinya dari dekat. Dan aku melihat tatapan wanita pengemis terus menerawang ke depan melihat jalan. Sambil tertatih-tatih dan pelan-pelan dia terus berjalan. Ingin sekali pada saat itu aku mempertanyakan tentang teman yang selalu menemaninya. Tapi aku hanya diam dan membisu. Lidahku terasa kelu, dan hanya bisa memejamkan mata ketika sosok wanita tersebut membelakangiku. Seakan-akan langkahnya telah menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku. Mungkin aku tak perlu mempertanyakannya jika hanya akan membuka rasa sepinya dan rasa sedihnya. Akhirnya aku pun kembali melanjutkan perjalananku dengan hati yang pedih dan sedih karena merasa kehilangan seorang sosok yang selalu menemani sore-sore ku. Meski aku tak pernah mengenalnya ataupun berbicara dengannya, tapi aku merasa kehilangan. Sangat kehilangan…

-chocco-

September 24, 2008 Ditulis oleh pockychocco | Uncategorized | , , , | 1 Komentar

Antara Ego dan Kejujuran

Menikmati hidup, itu yang sedang aku jalani sekarang. Bertemu dengan karakter-karakter yang unik dan aneh dari makhluk Tuhan yang bernama Manusia.

Baru-baru ini aku menemukan karakter manusia yang lebih mementingkan EGO daripada KEJUJURAN dan PERTEMANAN. Menurut beberapa sahabatku, kadang sebuah kejujuran bisa menyebabkan rasa MALU. Sehingga memegang prinsip “apapun yang terjadi, jangan sampai mengaku tentang hal sebenarnya daripada harus menanggung rasa malu”. Pathetic, itu yang bisa aku katakan terhadap orang-orang seperti itu. Tapi harus aku akui, sifat seperti ini adalah sifat yang mewarnai dunia. Kalo dunia isinya orang baik mulu, kita bisa jadi terlena dan akan terasa membosankan. Makanya diciptakanlah orang-orang yang mempunyai seperti itu untuk mewarnai hidup ini. Di saat EGO menang, KEJUJURAN dan KEBERANIAN bukan lagi jadi PRIORITAS (kata si Jo).

Ck.. ck.. ck.. sudah sebegitu bejatnya kah moral manusia sehingga sudah tidak mempunyai hati nurani lagi terhadap sesamanya.

Well tetep hal tersebut bikin gw heran, buat apa mempertahankan kebohongan yang semua orang juga sudah tahu bahwa dirinya berbohong. Aneh kan? Dengan segala penyangkalan-penyangkalannya yang bisa membuatku hanya menghela nafas panjang.

Munafik? Bukankah semua manusia itu munafik? Aku bukan sosok suci yang mengatakan bahwa diriku bukan seorang munafik.

Kadar munafik dia berlebih? Wah jujur saja bukan aku yang berhak menentukan hal tersebut.

Lalu sapa? Tentu saja Tuhan duonk yang bisa menentukan kadar ke- munafikkan setiap makhluk ciptaan-Nya.

Lalu kita? Ya.. menjalaninya dan menikmati segala permainan yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Terkadang emosi kita menjadi campur aduk di dalam permainan-Nya, menjadi tidak terima ketika kita merasa terpojokkan atau dipermainkan. Dan dengan membabi buta menyalahkan orang lain. Hal yang lumrah ketika seseorang merasa terpojok maka dia akan memojokkan orang lain yang menjadi musuhnya. Bertubi-tubi mengirimkan pesan-pesan berisi umpatan, caci maki, rasa tidak terima atas akibat dari hal yang dia perbuat. Padahal kalo dipikir memakai LOGIKA, keadaan terpojokkan itu dia sendiri yang membuat.

Contoh kasus:

Ada si A sedang duduk-duduk santai. Kemudian datanglah si B yang tanpa tendeng aling-aling langsung memukul kepala si A tanpa ada aba-aba ba bi bu, alasan yang dikemukakan oleh si B adalah hanya sekedar ingin memukul saja. Kebetulan si A yang ada disana dan jadi korbannya.

Respon si A ::

· pertama, si A langsung emosi dan memukul si B balik, si B ga terima dan akhirnya terjadilah perkelahian. Yang menurutku perkelahian ga penting.

· Kedua, si A menatap B heran dan menanyakan alasannya, dan si B tidak menjawab malah mengumpat, berlagak sok jagoan dan menantang si A balik. Yang kemudian direspon si A dg ditinggal ngeloyor pergi dan menganggap bahwa si B adalah sosok yang gila dan ga waras. Istilah kasarnya yang “waras” ngalah.

Respon mana yang saya ambil jika saya jadi si A? Tentu saja yang kedua, bagi aku pribadi ga perlu adu jotos-jotosan n emosi yang waste energi. Cukup mendatangi orangnya dan menanyakan apa maksudnya. Selesai dia menjawab dengan jujur dan mengaku bahwa dia bersalah. Masalah selesai n kelar deh, case closed!! Tapi kenyataan yang terjadi berbeda deh, bukannya dikasih kejujuran malah diberi penyangkalan dan ketidakjujuran. Udah gitu ngotot lagi. Wadaw.. dasar manusia SUNEH (Suka Aneh) *ngakak*

Habis ngotot tanpa rasa bersalah, orang tersebut (si B) berbalik menyerang emosi si A dengan segala umpatan kemarahannya. Ya kok untungnya si A ga terlalu menanggapi or terpancing emosinya. Malah dia berkata “Anjing menggonggong Khafilah berlalu serta Silent is Gold”.

Ketika seseorang yang sudah jelas-jelas diketahui bersalah tapi terus-terusan berteriak bahwa dirinya tak bersalah, hanya menunjukkan ketidak berdayaannya melawan kebenaran. Sama seperti ketika seseorang berteriak-teriak dirinya menang padahal kenyataannya dia kalah total, hanya menunjukkan kekalahan yang dia alami. Tapi si A tidak terlalu memusingkan pemikiran antara kalah dan menang karena hal itu bukan dirinya yang memutuskan. Tapi Sang Pencipta lah yang berhak memutuskan siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang jujur dan tidak. Si A berkata padaku, bahwa yang sedang dia lakukan adalah mengikhlaskan semua dan menerimanya dengan lapang dada. Lagipula si A memaklumi tindakan si B yang terlalu membela pasangannya meski pasangannya telah melakukan kesalahan terhadap si A. Manusia itu jika sudah kena yang namanya Cinta, maka logika pun tidak akan pernah dipakai. Hanya perasaan dan emosi buta yang ada dalam hati dan pikirannya, begitu kata si A sambil tersenyum.

Orang yang berkata bahwa orang lain tidak lebih dewasa dari dirinya, justru menunjukkan bahwa dirinya lah yg kekanak-kanakan dan tidak dewasa. Mungkin satu pertanyaanku untuk orang-orang yang merasa dirinya lebih dewasa ataupun memutuskan bahwa orang lain itu childish n masih perlu belajar lagi soal kedewasaan.

“apakah kalian Tuhan, sehingga kalian berhak memutuskan bahwa orang lain itu dewasa dan tidak? Lebih penting mana, EGO atau KEJUJURAN?”

Aku mungkin bukan orang ya percaya dengan agama, tapi aku adalah orang yang percaya terhadap Tuhan dan adanya Kitab Suci. Puji Tuhan Alhamdullilah, aku dikarunai oleh sahabat-sahabat dekat yang selalu ada ketika aku jatuh dan susah. Selalu bersama saling melindungi antara yang satu dengan yang lain. Memang mencari teman dan musuh itu gampang, tapi mencari sahabat yang ada ketika kita jatuh itu yang susah.

-chocco-

September 23, 2008 Ditulis oleh pockychocco | chocco`s write, my curhat | , , | No Comments Yet

Eksistensi konyol

Terlalu banyak berpikir tentang eksistensi diri sendiri. Dan selalu mempunyai ambisi untuk membuktikan tentang eksistensinya hanya menyebabkan pembodohan dan kekonyolan saja.

Baru-baru ini aku menjumpai seseorang yang membuatku sering mengernyitkan alis mataku alias bikin heran. Memang baru beberapa bulan aku mengenalnya dan berjumpa dengannya sekali. Radar “bad feelin” sudah aku rasakan semenjak awal pertama kami berkenalan dan bercakap-cakap. Hanya saja karena aku baru saja mengenalnya, jadi aku agak sedikit tidak memperdulikan feelin ku itu. Akhir yang bisa ditebak, secara tanpa sadar dia sudah menunjukkan eksistensi tersembunyinya yang akhirnya malah jadi kebablasan *tau begini kan aku lebih menuruti my feelin deh*. Biasa kalo aku mempunyai “Bad feelin” jika kenalan ama orang, secara otomatis langsung jaga jarak. Kenal boleh, tapi untuk jadi teman apalagi teman dekat, “wait a minute” deh yaaaa.

Mungkin jika kekonyolannya tidak menyungging eh salah.. menyinggung *ini baru bener* tentang my partner, aku bisa saja cuek dan ga begitu peduli dengan segala omong kosongnya. Tapi ucapan tong sampah yang keluar dari mulutnya itu benar-benar seperti tong kosong nyaring bunyinya. Bagaimana tidak? Semua ucapannya yang berhubungan dengan my partner, selalu dibuat-buat dan hanya omong kosong saja. Dengan pongahnya seakan menyatakan padaku bahwa dia lebih tahu tentang my partner daripada diriku sendiri. Contoh kecilnya deh ya, dia mengatakan bahwa hari ini jam ini dia bersama my partner. Sedangkan pada waktu yang dia sebutkan, aku sedang telpon-telponan dengan my partner yang jelas-jelas my partner sedang tidak bersama dia. Ketika aku meng”counter” pernyataannya *cieee.. emangnya counter strike*, dia dengan tertawa mengatakan bahwa kemungkinan orang yang sedang aku telepon itu bukan my partner. Dan lagi-lagi aku menjadi heran dengan perkataannya. Ini orang “psycho” ato “konyol” sih?. Itu hanya salah satu contoh saja deh ya.. kalau mau dikasih contoh yang banyak, ada noh sms-smsna yang tersimpan di inbox yang suka bikin gw ngakak-ngakak kalo baca.

Setelah itu aku membahasnya dengan my partner *memang my partner juga kenal dengannya*, dan percakapannya jadi seperti ini. (Mipi = partner saya, Dipi = saya)

Mipi : Yank.. mending kamu jaga jarak aja deh ama dia, percuma aja nanggepin dia. Orang kayak dia itu semakin ditanggepin, semakin ngelunjak aja. Aku aja jaga jarak koq ama dia, karena semakin hari koq dia semakin ngeri aja. Selain itu aku juga jaga perasaan pasangannya lah.

Dipi  : ya aku cuma negasin aja gitu loh, biar dia itu tahu batas sama kamu.

Mipi : ya kalo gitu kamu ga usah panjang lebar. Ngomong aja gini Yank “udah kamu urus aja pasanganmu yg lebih butuh kasih sayang n perhatian, daripada ngurusin sasa”. Dan kalo dia sms balik n ngoceh apa aja, ga usah dibales. Biarin saja.

Dipi  : gitu ya Mip?

Mipi : Iya lah. Lagipula dia itu dari dulu seperti itu, sangat berambisi pengen nunjukkan bahwa dia seorang pemimpin yang berwibawa dan bertanggung jawab. Dan memang kadang suka lebay (berlebihan) kalo cerita. Padahal kenyataannya ya ga seperti itu.

Dipi  : tapi masa sampe cerita kudu lebay gitu Mip? Koq dia seperti itu ya Mip?

Mipi : ya aku ga tahu Yank.. lah wong aku bukan dia kok. Udahlah Yank.. cuekin aja. Yang penting hubungan kita ga kenapa-kenapa. Dan kita saling percaya. Aku takutnya dia tuh pengen ngehancurin hubungan kita dengan merusak rasa saling percaya kita.

Selesai pembicaranku dengan cintaku tersebut, aku pun terdiam dan berpikir. Yak kali ini pikiranku kembali menjelajah untuk menganalisa sifat manusia *one of my fave*. Dan akhirnya sampai dalam satu kesimpulan, eksistensi sih boleh-boleh saja asal ga berlebihan yang malah akan menyebabkan dia sendiri jadi konyol, atau bisa juga menyakiti orang lain hanya agar dia diperhatikan oleh orang sekitarnya. Orang yang kurang bereksistensi juga ga baik, karena dia jadi sangat rendah diri *ga PeDe-an* di masyarakat n ga dapet perhatian dari masyarakat. Jadi lebih baik menjadi orang yang sedang-sedang saja, menurutku sih begitu.

Buat penganut eksistensialisme, mohon maaf ye kalo tersinggung dg tulisan ini coz aku ga begitu mengerti tentang teori eksistensi sendiri, karena aku bukan penganut eksistensialisme. Saya penganut aliran sedang-sedang saja deh. Ga mau jadi takabur hanya untuk sebuah eksistensi diri. Sehingga akhirnya menjadi orang yang suka mengarang cerita *membual* hanya untuk menunjukkan eksistensi diri. Amit-amit jabang bayi *ketok-ketok meja kayu 3x*

September 13, 2008 Ditulis oleh pockychocco | chocco`s write | , | No Comments Yet