Eksistensi konyol
Terlalu banyak berpikir tentang eksistensi diri sendiri. Dan selalu mempunyai ambisi untuk membuktikan tentang eksistensinya hanya menyebabkan pembodohan dan kekonyolan saja.
Baru-baru ini aku menjumpai seseorang yang membuatku sering mengernyitkan alis mataku alias bikin heran. Memang baru beberapa bulan aku mengenalnya dan berjumpa dengannya sekali. Radar “bad feelin” sudah aku rasakan semenjak awal pertama kami berkenalan dan bercakap-cakap. Hanya saja karena aku baru saja mengenalnya, jadi aku agak sedikit tidak memperdulikan feelin ku itu. Akhir yang bisa ditebak, secara tanpa sadar dia sudah menunjukkan eksistensi tersembunyinya yang akhirnya malah jadi kebablasan *tau begini kan aku lebih menuruti my feelin deh*. Biasa kalo aku mempunyai “Bad feelin” jika kenalan ama orang, secara otomatis langsung jaga jarak. Kenal boleh, tapi untuk jadi teman apalagi teman dekat, “wait a minute” deh yaaaa.
Mungkin jika kekonyolannya tidak menyungging eh salah.. menyinggung *ini baru bener* tentang my partner, aku bisa saja cuek dan ga begitu peduli dengan segala omong kosongnya. Tapi ucapan tong sampah yang keluar dari mulutnya itu benar-benar seperti tong kosong nyaring bunyinya. Bagaimana tidak? Semua ucapannya yang berhubungan dengan my partner, selalu dibuat-buat dan hanya omong kosong saja. Dengan pongahnya seakan menyatakan padaku bahwa dia lebih tahu tentang my partner daripada diriku sendiri. Contoh kecilnya deh ya, dia mengatakan bahwa hari ini jam ini dia bersama my partner. Sedangkan pada waktu yang dia sebutkan, aku sedang telpon-telponan dengan my partner yang jelas-jelas my partner sedang tidak bersama dia. Ketika aku meng”counter” pernyataannya *cieee.. emangnya counter strike*, dia dengan tertawa mengatakan bahwa kemungkinan orang yang sedang aku telepon itu bukan my partner. Dan lagi-lagi aku menjadi heran dengan perkataannya. Ini orang “psycho” ato “konyol” sih?. Itu hanya salah satu contoh saja deh ya.. kalau mau dikasih contoh yang banyak, ada noh sms-smsna yang tersimpan di inbox yang suka bikin gw ngakak-ngakak kalo baca.
Setelah itu aku membahasnya dengan my partner *memang my partner juga kenal dengannya*, dan percakapannya jadi seperti ini. (Mipi = partner saya, Dipi = saya)
Mipi : Yank.. mending kamu jaga jarak aja deh ama dia, percuma aja nanggepin dia. Orang kayak dia itu semakin ditanggepin, semakin ngelunjak aja. Aku aja jaga jarak koq ama dia, karena semakin hari koq dia semakin ngeri aja. Selain itu aku juga jaga perasaan pasangannya lah.
Dipi : ya aku cuma negasin aja gitu loh, biar dia itu tahu batas sama kamu.
Mipi : ya kalo gitu kamu ga usah panjang lebar. Ngomong aja gini Yank “udah kamu urus aja pasanganmu yg lebih butuh kasih sayang n perhatian, daripada ngurusin sasa”. Dan kalo dia sms balik n ngoceh apa aja, ga usah dibales. Biarin saja.
Dipi : gitu ya Mip?
Mipi : Iya lah. Lagipula dia itu dari dulu seperti itu, sangat berambisi pengen nunjukkan bahwa dia seorang pemimpin yang berwibawa dan bertanggung jawab. Dan memang kadang suka lebay (berlebihan) kalo cerita. Padahal kenyataannya ya ga seperti itu.
Dipi : tapi masa sampe cerita kudu lebay gitu Mip? Koq dia seperti itu ya Mip?
Mipi : ya aku ga tahu Yank.. lah wong aku bukan dia kok. Udahlah Yank.. cuekin aja. Yang penting hubungan kita ga kenapa-kenapa. Dan kita saling percaya. Aku takutnya dia tuh pengen ngehancurin hubungan kita dengan merusak rasa saling percaya kita.
Selesai pembicaranku dengan cintaku tersebut, aku pun terdiam dan berpikir. Yak kali ini pikiranku kembali menjelajah untuk menganalisa sifat manusia *one of my fave*. Dan akhirnya sampai dalam satu kesimpulan, eksistensi sih boleh-boleh saja asal ga berlebihan yang malah akan menyebabkan dia sendiri jadi konyol, atau bisa juga menyakiti orang lain hanya agar dia diperhatikan oleh orang sekitarnya. Orang yang kurang bereksistensi juga ga baik, karena dia jadi sangat rendah diri *ga PeDe-an* di masyarakat n ga dapet perhatian dari masyarakat. Jadi lebih baik menjadi orang yang sedang-sedang saja, menurutku sih begitu.
Buat penganut eksistensialisme, mohon maaf ye kalo tersinggung dg tulisan ini coz aku ga begitu mengerti tentang teori eksistensi sendiri, karena aku bukan penganut eksistensialisme. Saya penganut aliran sedang-sedang saja deh. Ga mau jadi takabur hanya untuk sebuah eksistensi diri. Sehingga akhirnya menjadi orang yang suka mengarang cerita *membual* hanya untuk menunjukkan eksistensi diri. Amit-amit jabang bayi *ketok-ketok meja kayu 3x*
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- September 2008 (3)
- Agustus 2008 (3)
- Juli 2008 (2)
- Mei 2008 (2)
- Maret 2008 (1)
- Oktober 2007 (1)
- September 2007 (2)
- Agustus 2007 (7)
- Juli 2007 (4)
- April 2007 (3)
- Maret 2007 (1)
- Februari 2007 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
