.::..L`eau de CieL..::.

My WoRLD… My LiFe… aND My BLoGs…

Antara Ego dan Kejujuran

Menikmati hidup, itu yang sedang aku jalani sekarang. Bertemu dengan karakter-karakter yang unik dan aneh dari makhluk Tuhan yang bernama Manusia.

Baru-baru ini aku menemukan karakter manusia yang lebih mementingkan EGO daripada KEJUJURAN dan PERTEMANAN. Menurut beberapa sahabatku, kadang sebuah kejujuran bisa menyebabkan rasa MALU. Sehingga memegang prinsip “apapun yang terjadi, jangan sampai mengaku tentang hal sebenarnya daripada harus menanggung rasa malu”. Pathetic, itu yang bisa aku katakan terhadap orang-orang seperti itu. Tapi harus aku akui, sifat seperti ini adalah sifat yang mewarnai dunia. Kalo dunia isinya orang baik mulu, kita bisa jadi terlena dan akan terasa membosankan. Makanya diciptakanlah orang-orang yang mempunyai seperti itu untuk mewarnai hidup ini. Di saat EGO menang, KEJUJURAN dan KEBERANIAN bukan lagi jadi PRIORITAS (kata si Jo).

Ck.. ck.. ck.. sudah sebegitu bejatnya kah moral manusia sehingga sudah tidak mempunyai hati nurani lagi terhadap sesamanya.

Well tetep hal tersebut bikin gw heran, buat apa mempertahankan kebohongan yang semua orang juga sudah tahu bahwa dirinya berbohong. Aneh kan? Dengan segala penyangkalan-penyangkalannya yang bisa membuatku hanya menghela nafas panjang.

Munafik? Bukankah semua manusia itu munafik? Aku bukan sosok suci yang mengatakan bahwa diriku bukan seorang munafik.

Kadar munafik dia berlebih? Wah jujur saja bukan aku yang berhak menentukan hal tersebut.

Lalu sapa? Tentu saja Tuhan duonk yang bisa menentukan kadar ke- munafikkan setiap makhluk ciptaan-Nya.

Lalu kita? Ya.. menjalaninya dan menikmati segala permainan yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Terkadang emosi kita menjadi campur aduk di dalam permainan-Nya, menjadi tidak terima ketika kita merasa terpojokkan atau dipermainkan. Dan dengan membabi buta menyalahkan orang lain. Hal yang lumrah ketika seseorang merasa terpojok maka dia akan memojokkan orang lain yang menjadi musuhnya. Bertubi-tubi mengirimkan pesan-pesan berisi umpatan, caci maki, rasa tidak terima atas akibat dari hal yang dia perbuat. Padahal kalo dipikir memakai LOGIKA, keadaan terpojokkan itu dia sendiri yang membuat.

Contoh kasus:

Ada si A sedang duduk-duduk santai. Kemudian datanglah si B yang tanpa tendeng aling-aling langsung memukul kepala si A tanpa ada aba-aba ba bi bu, alasan yang dikemukakan oleh si B adalah hanya sekedar ingin memukul saja. Kebetulan si A yang ada disana dan jadi korbannya.

Respon si A ::

· pertama, si A langsung emosi dan memukul si B balik, si B ga terima dan akhirnya terjadilah perkelahian. Yang menurutku perkelahian ga penting.

· Kedua, si A menatap B heran dan menanyakan alasannya, dan si B tidak menjawab malah mengumpat, berlagak sok jagoan dan menantang si A balik. Yang kemudian direspon si A dg ditinggal ngeloyor pergi dan menganggap bahwa si B adalah sosok yang gila dan ga waras. Istilah kasarnya yang “waras” ngalah.

Respon mana yang saya ambil jika saya jadi si A? Tentu saja yang kedua, bagi aku pribadi ga perlu adu jotos-jotosan n emosi yang waste energi. Cukup mendatangi orangnya dan menanyakan apa maksudnya. Selesai dia menjawab dengan jujur dan mengaku bahwa dia bersalah. Masalah selesai n kelar deh, case closed!! Tapi kenyataan yang terjadi berbeda deh, bukannya dikasih kejujuran malah diberi penyangkalan dan ketidakjujuran. Udah gitu ngotot lagi. Wadaw.. dasar manusia SUNEH (Suka Aneh) *ngakak*

Habis ngotot tanpa rasa bersalah, orang tersebut (si B) berbalik menyerang emosi si A dengan segala umpatan kemarahannya. Ya kok untungnya si A ga terlalu menanggapi or terpancing emosinya. Malah dia berkata “Anjing menggonggong Khafilah berlalu serta Silent is Gold”.

Ketika seseorang yang sudah jelas-jelas diketahui bersalah tapi terus-terusan berteriak bahwa dirinya tak bersalah, hanya menunjukkan ketidak berdayaannya melawan kebenaran. Sama seperti ketika seseorang berteriak-teriak dirinya menang padahal kenyataannya dia kalah total, hanya menunjukkan kekalahan yang dia alami. Tapi si A tidak terlalu memusingkan pemikiran antara kalah dan menang karena hal itu bukan dirinya yang memutuskan. Tapi Sang Pencipta lah yang berhak memutuskan siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang jujur dan tidak. Si A berkata padaku, bahwa yang sedang dia lakukan adalah mengikhlaskan semua dan menerimanya dengan lapang dada. Lagipula si A memaklumi tindakan si B yang terlalu membela pasangannya meski pasangannya telah melakukan kesalahan terhadap si A. Manusia itu jika sudah kena yang namanya Cinta, maka logika pun tidak akan pernah dipakai. Hanya perasaan dan emosi buta yang ada dalam hati dan pikirannya, begitu kata si A sambil tersenyum.

Orang yang berkata bahwa orang lain tidak lebih dewasa dari dirinya, justru menunjukkan bahwa dirinya lah yg kekanak-kanakan dan tidak dewasa. Mungkin satu pertanyaanku untuk orang-orang yang merasa dirinya lebih dewasa ataupun memutuskan bahwa orang lain itu childish n masih perlu belajar lagi soal kedewasaan.

“apakah kalian Tuhan, sehingga kalian berhak memutuskan bahwa orang lain itu dewasa dan tidak? Lebih penting mana, EGO atau KEJUJURAN?”

Aku mungkin bukan orang ya percaya dengan agama, tapi aku adalah orang yang percaya terhadap Tuhan dan adanya Kitab Suci. Puji Tuhan Alhamdullilah, aku dikarunai oleh sahabat-sahabat dekat yang selalu ada ketika aku jatuh dan susah. Selalu bersama saling melindungi antara yang satu dengan yang lain. Memang mencari teman dan musuh itu gampang, tapi mencari sahabat yang ada ketika kita jatuh itu yang susah.

-chocco-

September 23, 2008 - Ditulis oleh pockychocco | chocco`s write, my curhat | , , | No Comments Yet

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar